23/10/13

Tugas Psikologi Manajemen : Psikologi Manajemen,Organisasi dan Komunikasi


PSIKOLOGI MANAJEMEN

Definisi Psikologi Manajemen

Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Stoner).
Lalu,apa pengertian psikologi manajemen?
Psikologi manajemen adalah ilmu tentang bagaimana mengatur / me-manage sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan.
Kaitannya dengan psikologi:
Dengan ditemukan dan dikembangkannya ilmu psikologi, diketahui bahwa unsur SDM ternyata merupakan yang terpenting dari ketiga modal kerja perusahaan manapun.
Pasalnya, ilmu psikologi yg memang berpusat pada manusia, mampu mengintervensi berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan, dsb dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa dicapai kinerja SDM yang setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan.

ORGANISASI
Definisi Organisasi

Organisasi dapat diartikan sebagai suatu alat atau wadah kerjasama untuk mencapai tujuan bersama dengan pola tertentu ,yang perwujudannya memiliki kekayaan baik fisik maupun non fisik.

Menurut Rosenzweig,organisasi dapat dipandang sebagai : (1) Sistem sosial,yaitu orang-orang dalam kelompok,(2) integrasi atau kesatuan dari aktivitas-aktivitas orang-orang yang bekerja sama dan (3) orang-orang yang berorientasi dan berpedoman pada tujuan bersama.Sedangkan Allen, berpendapat bahwa organisasi adalah suatu proses identifikasi dan pembentukan serta pengelompokan kerja , mendefinisikan dan mendelegasikan wewenang dan tanggung jawab dan menetapkan hubungan-hubungan dengan maksud untuk memungkinkan orang-orang bekerja sama secara efektif dalam menuju tujuan yang ditetapkan.

Dimensi Desain Organisasi

Menurut Richard L. Daft (1998:15), dimensi desain organisasi terdiri dari 2 tipe yaitu:
1. Dimensi Struktural, yaitu dimensi yang menggambarkan karakteristik internal dari organisasi dan menciptakan suatu dasar untuk mengukur dan membandingkan organisasi. Dimensi struktural terdiri dari:

a. Formalisasi
Formalisasi mengacu pada suatu tingkat yang terhadapnya pekerjaan di dalam organisasi itu dibakukan (Bedelan & Zammuto, 1991:129). Jika suatu pekerjaan sangat diformalkan, maka pelaksana pekerjaan tersebut mempunya tingkat keleluasaan yang minimum mengenai apa yang harus dikerjakan, kapan harus dikerjakan, dan bagaimana ia harus mengerja kan. Ada 3 macam jenis formalisasi, yaitu: Formalisasi berdasarkan pekerjaan, formalisasi berdasarkan aliran pekerjaan, dan formalisasi berdasarkan peraturan.

b. Spesialisasi
Spesialisasi hakikatnya ialah daripada dilakukan oleh satu individu, lebih baik seluruh pekerjaan itu dipecah-pecah menjadi sejumlah langkah, dengan tiap langkah diselesaikan oleh seorang individu yang berlainan (Daft, 1998:16). Suatu spesialisasi kerja ikatakan bersifat ekstensif apabila setiap karyawan hanya mengerjakan tugas-tugas tertentu yang sempit wilayahnya. Suatu spesialisasi dikatakan rendah apabila karyawan mengerjakan tugas-tugas yang mempunyai batasan yang luas. Ada 2 (dua) tipe spesialisasi, yaitu:
1. Spesialisasi horisontal
Spesialisasi horisontal ini menunjuk pada ruang lingkup suatu pekerjaan, atau pada tingkat mana seorang karyawan melakukan suatu pekerjaan yang lengkap. Semakin kecil bagian suatu karyawan terhadap suatu pekerjaan secara keseluruhan, maka semakin horizontal tingkat spesialisasi pada pekerjaan tersebut.
2. Spesialisasi vertikal
Spesialisasi vertikal menunjuk pada tingkat kontrol yang dimiliki oleh seorang karyawan terhadap suatu pekerjaan. Semakin banyak keputusan yang dibuat oleh seorang karyawan, mengenai bagaimana dan kapan harus melakukan suatu tugas, dan semakin terbatas perilaku karyawan untuk melakukan tugas tersebut diatur oleh peraturan, prosedur, pengawasan ataupun teknologi, semakin rendah tingkat spesialisasi vertikalnya.

c. Standarisasi
Standarisasi menunjuk pada prosedur yang di desain untuk membuat aktivitas organisasi menjadi teratur, dan hal ini secara otomatis akan memfasilitasi adanya koordinasi (Jackson & Morgan, 1978:92).

d. Hierarki Otoritas.
Otoritas merupakan bentuk dari kekuasaan yang ada pada suatu posisi atau kantor (Robbins, 2003:429). Ketika hak untuk mengatur bawahan termasuk dalam otoritas seseorang, maka otoritas tersebut memberikan hak untuk membatasi pilihan dan perbuatan yang dilakukan oleh bawahan. Hirarki berhubungan dengan “span of control”, yaitu jumlah karyawan yang melapor pada seorang supervisor. Ketika span of control ini sempit, hirarki otoritasnya cenderung tinggi, ketika span of control ini lebar, hirarki otoritasnya akan lebih pendek.

e. Kompleksitas
Kompleksitas menunjuk pada jumlah aktivitas maupun subsistem pada organisasi. Kompleksitas bisa diukur melalui 3 (tiga) diferensiasi yaitu vertikal, horizontal dan spatial.
1. Diferensiasi vertikal. Semakin banyak tingkatan yang ada antara manajemen puncak
dengan bagian operasional, organisasi tersebut semakin kompleks.
2. Diferensiasi horisontal adalah jumlah jenis pekerjaan satu departemen yang ada pada
organisasi. Semakin banyak jumlah pekerjaan yang ada pada suatu organisasi yang
membutuhkan pengetahuan dan keahlian khusus, semakin tinggi kompleksitas horisontal pada organisasi tersebut.
3. Diferensiasi spasial adalah jumlah daerah dari keberadaan organisasi secara fisik.
Dengan meningkatnya diferensiasi spasial ini maka semakin tinggi pula kompleksitasnya.

f. Sentralisasi
Istilah sentralisasi mengacu pada sampai tingkat mana pengambilan keputusan dipusatkan pada suatu titik tunggal dalam organisasi. Dikatakan bahwa ketika manajemen puncak membuat keputusan-keputusan kunci dalam organisasi dengan masukan yang terbatas dari
karyawan yang berada di bawahnya, maka organisasi tersebut memiliki tingkat sentralisasi tinggi. Sebaliknya, semakin banyak karyawan yang berada di bawah manajemen puncak memberikan masukan bagi pengambilan keputusan, maka dikatakan bahwa organisasi
lebih terdesentralisasi.Pada perusahaan yang memiliki karakter sentralisasi tinggi akan mempunyai struktur yang berbeda dengan perusahaan yang terdesentralisasi.

g. Profesionalisme
Profesionalisme adalah level dari pendidikan formal dan training yang harus dimiliki dan diikuti oleh karyawan. Profesionalisme dianggap tinggi apabila karyawan harus mengikuti training dalam jangka waktu yang lama untuk memegang suatu pekerjaan atau jabatan pada perusahaan.

h. Personnel ratio.
Personel ratio menunjuk pada jumlah karyawan pada suatu fungsi atau departemen tertentu.

2. Dimensi Kontekstual, yaitu dimensi yang menggambarkan keseluruhan dari suatu organisasi. Dimensi ini memperlihatkan susunan organisasi yang mempengaruhi dan membentuk suatu dimensi struktural organisasi, yang terdiri dari:
a. Ukuran. Ukuran adalah besarnya suatu organisasi yang terlihat dari jumlah orang dalam
organisasi tersebut.
b. Teknologi Organisasi. Teknologi organisasi adalah dasar dari subsistem produksi, termasuk teknik dan cara yang digunakan untuk mengubah input organisasi menjadi output.
c. Lingkungan. Lingkungan mencakup seluruh elemen di luar lingkup organisasi. Elemen
kunci mencakup industri, pemerintah, pelanggan, pemasok dan komunitas finansial.

Bentuk Desain Organisasi

Bentuk dari desain organisasi ini ditentukan oleh tingkat formalisasi yang dilakukan, tingkat sentralisasi dalan organisasi, kualifikasi karyawan, span of control yang ada serta komunikasi dan koordinasi yang ada dalam organisasi (Robbins,2003:136). Bentuk desain organisasi terdiri dari:
a. Organic
Pada organisasi yang berbentuk organic, maka dalam organisasi ini terdapat tingkat formalisasi yang rendah, terdapat tingkat sentralisasi yang rendah, serta diperlukan training dan pengalaman untuk melakukan tugas pekerjaan. Selain itu terdapat span of control yang sempit serta adanya komunikasi horisontal dalam organisasi.
b. Mostly Organic
Pada organisasi yang berbentuk mostly organic, formalisasi dan sentralisasi yang diterap
kan berada di tingkat moderat. Selain itu diperlukan pengalaman kerja yang banyak
dalam organisasi ini. Terdapat span of control yang bersifat antara moderat sampai lebar serta lebih banyak komunikasi horisontal yang bersifat verbal dalam organisasi tersebut.
c. Mechanistic
Pada organisasi yang berbentuk mechanistic, terdapat ciri-ciri yaitu: adanya tingkat formalisasi yang tinggi, tingkat sentralisasi yang tinggi, training atau pengalaman kerja yang sedikit atau tidak terlalu penting, ada span of control yang lebar serta adanya komunikasi yang bersifat vertikal dan tertulis.
d. Mostly Mechanistic
Pada jenis organisasi ini, terdapat ciri-ciri yaitu: adanya formalisasi dan sentralisasi pada tingkat moderat, adanya training-training yang bersifat formal atau wajib, span of control yang bersifat moderat serta terjadi komunikasi tertulis maupun verbal dalam organisasi tersebut.

KOMUNIKASI

Definisi Komunikasi

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui media)

Menurut Harold Laswell,komunikasi adalah gambaran mengenai siapa, mengatakan apa, melalui media apa, kepada siapa, dan apa efeknya.Raymond Ross menyatakan komunikasi adalah proses menyortir, memilih, dan pengiriman simbol-simbol sedemikian rupa agar membantu pendengar membangkitkan respons/ makna dari pemikiran yang serupa dengan yang dimaksudkan oleh komunikator.

Dimensi Komunikasi

1.Komunikasi sebagai proses
Jika komunikasi dipandang sebagai proses, komunikasi yang dimaksud adalah suatu kegiatan yang berlangsung secara dinamis. Sesuatu yang didefinisikan sebagai proses berarti unsur-unsur yang ada didalamnya bergerak aktif dinamis dan tidak tetap.

2.Komunikasi sebagai simbolik
Simbol dapat dinyatakan dalam bentuk bahasa lisan atau tertulis (Verbal) maupun melalui isyarat – isyarat tertentu (non- Verbal).Simbol disini berarti sebuah tanda atau lambang hasil kreasi manusia atau bisa dikatakan sebuah tanda hasil kreasi manusia yang dapat menunjukkan kualitas budaya manusia dalam berkomunikasi dengan sesamanya. Dalam pernyataan “kualitas budaya manusia dalam berkomunikasi dengan sesamanya” dapat ditelaah kembali bahwa banyak faktor yang mempengaruhi adanya simbol itu sendiri yaitu :
• Faktor budaya
• Faktor psikologis
Sehingga meskipun pesan yang disampaikan sama tetapi bisa saja berbeda arti bilamana individu yang menerima atau receiver nya mempunyai kerangka berpikir berbeda begitu juga latar belakang budayanya.

3.Komunikasi sebagai sistem
Sistem sering kali didefinisikan sebagai suatu aktivitas dimana semua komponen atau untuk yang mendukungnya saling berinteraksi satu sama lain dalam menghasilkan luaran atau dengan kata lain seperangkat komponen yang bergantung artinya mengikuti permainan yang ada, sistem terbagi atas 2 :
• Sistem terbuka : dimana prosesnya terbuka dan pengaruh lingkungan yang ada disekitarnya.
• Sistem tertutup : prosesnya tertutup dari pengaruh luar (lingkungan).

4.Komunikasi sebagai transaksional
Komunikasi tidak pernah terjadi tampa melibatkan orang lain, dalam proses yang demikian akan timbul action dan interaction diantara para pelaku komunikasi.

5.Komunikasi sebagai aktivitas sosial
Hubungan antar sesama manusia, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya atau untuk kepentingan aktualitas diri dalam membicarakan masalah-masalah politik, sosial, budaya, seni dan teknologi.

6. Komunikasi sebagai multidimensional
Kalau komunikasi dilihat dari perspektif multidimensional ada 2 tingkatan yang dapat diidentifikasikan yakni dimensi isi (contet dimension) dan dimesi hubungan (relationship dimension).
Dimensi isi : lebih menunjukkan pada kata, bahasa dan informasi yang dibawa pesan. Jadi seperti orang madura berbicara dengan orang jawa pasti bahasa yang mereka gunakan pun juga berbeda disinilah dimensi isi menunjukkan hal tersebut dalam komunikasi.
Dimensi hubungan : menunjukkan bagaimana proses komunikasi berinteraksi satu sama lain. Masih dengan contoh diatas dimensi hubungan menunjukkan bagaimana mereka berinteraksi, media apa yang mereka gunakan, apakah ada bahasa tubuh atau simbol-simbol yang digunakan. Itu dilihat dari dimensi hubungan.
Asumsi dasar hubungan multidimensional adalah bahwa sumber tidak hanya mempengaruhi pesan, tetapi juga bisa mempengaruhi komponen yang lainnya.

 SUMBER:
Naja,Hasanuddin Rahman Daeng.2004.Manajemen Fit and Proper Test.Yogyakarta:Pustaka Widyatama 


03/10/13

Biografi

Intan Purnama Iswari,rangkaian kata yang dijadikan sebuah nama di sepanjang kehidupan saya.Saya biasa dipanggil Intan, tapi jika di keluarga besar,saya biasa dipanggil Kadek.Karena saya anak bungsu dari Bapak Wayan Semeratmaja dan Ibu Ni Ketut Sarka Atmaja dan memiliki seorang kakak laki-laki yang  dibesarkan dari keluarga asli Bali,sehingga panggilan Kadek dapat berarti adik dan nama panggilan anak kedua yang biasa dipakai dalam keluarga di Bali.Meskipun saya berasal dari Bali,dari kecil saya tumbuh dan berkembang di Depok.Saya lahir di Bogor,tepatnya tanggal 29 bulan November tahun 1993 silam.Proses persalinan ibu dalam melahirkan saya berlangsung dengan normal.Ternyata sebelum saya lahir,kakak berteriak dari luar ruang persalinan,dan seketika itu pula saya lahir dengan selamat dan memulai kehidupan di dunia.Tangisan kencang saya mengawali semua ini,semua yang akan saya hadapi di dalam hidup,di dalam keindahan dunia,di iringi kemuliaan dan keagungan Tuhan. Kehadiran saya di dunia menjadi suatu hal yang ditunggu oleh semua keluarga besar saya sebagai anak perempuan pertama di keluarga.Doa dan harapan ditujukan kepada bayi mungil ini,Intan Purnama Iswari.
Dek Intan, nama panggilan yang hingga sekarang melekat dalam diri saya.Sebagai anak bungsu dalam keluarga dan anak perempuan satu-satunya.Saya dibesarkan di lingkungan keluarga yang disiplin.Dididik dengan pola asuh yang demokrasi tapi tetap tegas , sehingga kedisiplinan yang diterapkan orang tua saya sudah melekat dalam diri saya. Saat umur saya sudah mencukupi untuk bersekolah,saya disekolahkan di TK Tunas Kasih.Letak TK yang berada di depan komplek perumahan relatif dekat dari tempat tinggal saya.Sebelum masuk TK pun saya sudah mulai diajarkan huruf,angka,menyanyi dan mengenal akan objek-objek benda.Saya sangat senang menyanyi,jika ibu mengajarkan saya lagu-lagu baru,saya sangat gembira dan mampu menghafalkan lagu-lagu dan menyanyikannya dengan benar. Saya juga senang berlari,meloncat dan bermain bersama teman-teman di taman bermain menjadi aktivitas saya saat TK.
Rasa ingin tahu yang cukup tinggi yang ada dalam diri saya membuat saya selalu ingin cepat masuk sekolah.Kata Ibu,saya sering berceloteh untuk segera masuk sekolah.Padahal saat itu saya baru berumur  kurang dari 6 tahun. Namun saat kecil saya termasuk anak yang pemalu sehingga kemanapun harus bersama ibu atau ayah.Di TK saya mulai memiliki teman,bermain dan belajar di usia kanak-kanak.Saat TK,saya diantar jemput oleh jemputan dari TK dimana saya bersekolah.Karena warna mobil itu berwarna putih sehingga saya dan teman-teman lain menyebutnya jemputan putih.Saya masih mengingat ketika itu saya akan berangkat sekolah,biasanya kaos kaki dan sepatu masih dipakaikan oleh Ibu,namun saat itu saya mencoba untuk  memakainya sendiri.Dan hasilnya,sepatu kiri saya pakai di kaki kanan dan sepatu kanan saya pakai di kaki kiri.Ibupun mentertawai saya dan langsung membenarkan dan menjelaskan cara memakai sepatu yang benar.Seperti kebanyakan anak-anak perempuan lainnya, saya suka mengkoleksi boneka.Setiap diajak pergi membeli mainan,saya selalu meminta untuk dibelikan boneka-boneka.Hingga terkadang orangtua melarang karena mengingat sudah tidak ada tempat lagi untuk menaruh semua boneka-boneka yang saya koleksi.
 Pertumbuhan saya di TK belum begitu terlihat,tinggi saya masih sepantaran dengan teman-teman lain,rambut yang tergerai panjang,namun tipis,dijadikan berbagai bentuk model ikat rambut oleh ibu saya.Kadang dibiarkan terurai,dikepang dua,dikuncir dua atau dikuncir kuda.Bahkan ibu pernah mengikat dua rambut saya dan dibuat bulat seperti anak-anak di Jepang.
 Setelah selasai bermain dan belajar di TK,saya melanjutkan pendidikan di SD Pemuda Bangsa.Saya bersekolah di SD yang sama dengan kakak saya.Saya memiliki seorang kakak laki-laki.Jarak umur saya dan kakak terpaut  4 tahun. Saat SD,saya diantar jemput menggunakan mobil jemputan.Karena jarak rumah dan sekolah yang cukup jauh.Sifat pemalu yang saya miliki masih saja melekat.Oleh karena itu ibu mengarahkan saya untuk perlahan menghilangkan sifat tersebut.Salah satunya dengan mengikuti les tari Bali saat SD dan tampil diacara-acara tertentu. Lalu,saya melihat kakak tergabung dalam ekstrakuikuler di sekolah,dan saya pun tertarik untuk mengikutinya.Namun baru saat kelas 4 SD saya dapat bergabung di ekstrakulikuler yang cukup menjadi andalan di sekolah saya.Ekstrakulikuler itu adalah Drumband Gita Widya Pemuda Bangsa.Masa-masa saya di Sekolah Dasar sangat mengesankan,bermain bersama teman-teman,belajar dan akhirnya tibalah saya memasuki masa pubertas di masa remaja awal.
Setelah lulus dari SD saya melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 Depok.Jarak sekolah yang cukup jauh membuat saya harus lebih mandiri.Untuk sampai ke sekolah,saya berangkat menggunakan kendaraan umum.Tapi lebiih sering berangkat bersama kakak sepupu,untuk menghemat uang jajan.Awalnya karna terbiasa naik jemputan untuk berangkat dan pulang sekolah saya merasa agak takut jika harus pulang sendirian seperti itu.Jadi,hari pertama sekolah, ibu mengajarkan saya harus naik angkot yang mana dan seterusnya,saya pun harus berani dan mengalihkan rasa takut saya yang dulu.Di SMPN 1 Depok, saya hanya mengenal beberapa teman karena teman dari SD saya dulu hanya beberapa yang akhirnya melanjutkan pendidikannya di sekolah yang sama dengan saya.Jadi,saya harus sangat beradaptasi agar dapat mengikuti hari demi hari di sekolah ini dengan baik.
Memasuki masa remaja awal ini,pertumbuhan saya semakin pesat.Terlihat dari fisik saya yang bertambah tinggi.Begitu juga dengan teman-teman perempuan saya yang lainnya.Di sana banyak sekali hal-hal yang tidak saya alami di sekolah dasar.Baik dari mata pelajarannya yang semakin banyak dan rumit,teman-teman dan pergaulan yang baru,dan berbagai hal-hal kompleks lainnya yang membuat saya benar-benar ingin menyesuaikan diri.Dan dari banyak kegiatan yang tersedia di SMP saya,entah mengapa saya memilih ekstrakulikuler Paskibra. Karena fisik yang terkuras serta pola makan yang tidak teratur membuat saya jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit karena menderita types (di semester 1) dan DBD  (di semester 2).Tapi untung saja teman-teman membantu dalam mengejar pelajaran yang tertinggal sehingga prestasi saya di sekolah tidak turun karena beberapa hari tidak masuk sekolah karena sakit.Setelah pulih kembali saya beraktifitas kembali dan sangat menjaga pola makan agar tidak kembali dirawat di rumah sakit.
Setelah naik ke kelas delapan,saya dianjutkan untuk menjadi pengurus OSIS di SMP saya.Akhirnya saya mengikuti pemilihan tersebut dan singkat cerita saya di percayakan untuk menjabat sebagai Sekertaris 2.Di organisasi ini saya menjadi kenal dengan teman-teman berbeda kelas dan kakak kelas yang berada di satu organisasi tersebut.Karena pada dasarnya saya seorang yang pemalu, saya sering sekali enggan dalam berpendapat.Namun di dalam organisasi ini,saya belajar banyak hal.Salah satunya dalam etika berbicara.Selanjutnya saya mulai terapkan dalam kehidupan saya sehari hari,mencoba untuk merubah sifat saya yang pemalu,menunduk jika berjalan dan sedikit demi sedikit saya bisa menjalankannya. Dan untungnya saja,lagi-lagi nilai-nilai di raport saya tidak jatuh dan saatnya berjuang di kelas sembilan dalam menghadapi UN.
Dan dikelas sembilan pun saya sudah mengimpikan Sekolah Menengah Atas yang ingin saya capai yaitu sekolah dimana kakak saya menuntut ilmu,SMAN 3 Depok.Karena sekolah itu termasuk dalam sekolah favorit,dengan kata lain saya harus mendapat nilai yang cukup dalam seleksi masuk siswa baru nanti.Dan di saat UN tiba,saya pun menjalaninya dengan berdoa,diiringi restu orang tua,dan ilmu-ilmu yang telah dipelajari sebelumnya.Sampai pada akhirnya surat kelulusan bertuliskan nama saya menyatakan bahwa saya pun lulus.
Lulus dari SMP berarti saya sudah semakin beranjak dewasa,namun sifat dasar saya yang pemalu dan tidak percaya diri masih terkadang muncul dalam diri saya.Saat itu saya nama saya pun terdaftar sebagai murid baru di SMA Negeri 2 Depok. Sampai akhirnya masa-masa SMA saya pun dimulai.Putih abu-abu yang mengisi masa remaja saya.
Saya harus kembali beradaptasi di sekolah baru ini,dengan teman-temannya,lingkungannya,pelajarannya dan segala seluk beluk yang akan saya hadapi selama 3 tahun kedepan.Saat kelas sepuluh,saya menjalani hari-hari di sekolah dengan biasa-biasa saja.Mengikuti pelajaran yang sudah cukup rumit dengan mata pelajaran yang sangat banyak dan begitu seterusnya.Untuk sedikit refreshing, saya kembali mengikuti ekstrakulikuler yang ada di sekolah.Awalnya saya ingin mengikuti ekstrakulikuler basket.Namun saya terpilih sebagai anggota pengibaran saat 17 Agustus yang semua anggotanya berasal dari siswa siswi kelas 10.Dan lagi-lagi saya terjun dalam ekstrakulikuler Paskibra.
Dikelas sepuluh,saya mulai mencari jati diri.Mencari teman dan kegiatan-kegiatan lainnya.Sampai pada akhirnya saya mendapat suatu kesempatan untuk mengikuti seleksi calon PASKIBRAKA di tingkat kota Depok.Awalnya saya tidak terlalu berharap akan lolos seleksi itu, karena menganggap peserta yang lain memiliki potensi yang lebih dibandingkan saya.Namun tahap demi tahap saya lalui dan pada akhirnya saya pun bergabung sebagai salah satu dari 42 putra putri yang terpilih di kota Depok.Rasa syukur atas rezeki yang saya terima di tahun 2009 itu terus mengalir.Namun,dukungan dari teman-teman dan juga senior kepada saya membawa saya terpilih untuk mewakili kota Depok di tingkat Provinsi Jawa Barat.Walaupun tidak dapat melanjutkan ke tingkat nasional.Rasa bangga dan senang dapat menjadi salah satu bagian dari putra putri yang bersatu mengibarkan bendera pusaka di tingkat Provinsi Jawa Barat menjadi suatu pengalaman yang berharga di masa-masa SMA saya.
Dan singkat kata saya naik ke kelas duabelas.Dimana saya lagi-lagi harus melaksanakan Ujian Nasional untuk lulus dari SMA dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Perjuangan menghadapi secarik kertas yang menentukan nasib kami selama  3 tahun berada di SMA.Ujian Nasional pun telah usai dan sampailah kami di gerbang perpisahan.Sekolah saya pun mendapatkan 100 % kelulusan, ini artinya perjuangan kami bersama sama selama 3 tahun diakhiri dengan perpisahan kami untuk menggapai cita-cita yang masih panjang di luar sana.
Perguruan Tinggi,ya saya akan melanjutkan pendidikan saya di Perguruan Tinggi.Tentunya saya sangat berharap untuk dapat lolos di perguruan tinggi negeri favorit.Namun jalan pun mengarahkan saya sampai di sini sebagai mahasiswa Psikologi di Universitas yang sampai saat ini menjadi almamater tempat saya menuntut ilmu,Universitas Gunadarma.
Hidup tidak selalu datar,hidup akan terus mengalir,bergelombang dan banyak rintangan.Kita tidak akan selalu berada di atas dan juga tidak akan selalu berada di bawah.Semuanya berputar,seperti rotasi bumi. Terkadang kenyataan tidak seperti yang kita harapkan.Namun kenyataan akan membawa kita ke satu titik dimana harapan-harapan yang sirna muncul kembali dan mewarnai hidup kita. Perjalanan saya masih panjang.Masih ada esok,lusa dan hari-hari berikutnya yang mengiringi setiap detik dalam kehidupan ini.Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi dikeesokan hari,tapi kita dapat memprediksi.Jangan sia-siakan setiap pelajaran hidup yang telah kita dapatkan, dan jangan pernah berhenti berdoa dan berusaha,dan yakinlah Tuhan Yang Maha Esa akan memberikan hal terbaik untuk setiap umat-Nya.


21/06/13

Rangkuman Tugas Kesehatan Mental

Konsep Sehat
Sehat (health)adalah konsep yang tidak mudah diartikan sekalipun dapat kita rasakan dan diamati keadaannya.Seperti contoh, orang tidak memiliki keluhan-keluhan fisik dipandang sebagai orang yang sehat.Sebagian masyarakat juga beranggapan bahwa orang yang gemuk merupakan orang yang sehat.Dalam hal ini,masyarakat melihat konsep dari sehat itu sendiri dalam faktor subjektifitas dan kultural.WHO (World Health Organization) merumuskan dalam cakupan yang sangat luas yaitu keadaan yang sempurna baik fisik,mental maupun sosial,tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat.Dalam definisi ini,sehat bukan sekadar terbebas dari penyakit/cacat.Namun semestinya dalam keadaan yang sempurna,baik fisik,mental,maupun sosial.
Sejarah perkembangan kesehatan mental
Zaman Prasejarah
Manusia purba sering mengalami gangguan gangguan baik mental maupun fisik,tetapi manusia purba benar-benar berusaha mengatai penyakit mental.Ia memandang dan merawatnya sama halnya dengan penyakit fisik lainnya.Tapi sungguh menggembirakan karena para pasien penyakit mental diperlakukan secara manusiawi.
Peradaban-peradaban awal
Dalam peradaban awal di Mesopotamia,Mesir,Yahudi,India,Cina dan benua Amerika,imam imam dan tukang sihir merawat orang-orang yang sakit mental.Sepanjang zaman kuno (dari 5000 tahun SM sampai 500 M)penyakit mental menjadi hal yang umum.
 Abad Pertengahan
Dalam periode abad 10-15,berkembang dancing mania dimana sejumlah orang menari secara liar.Masa abad ke-15 sampai 18 para pasien penyakit mental dianggap sebagai kerasukan setan dan perawatannya dengan cara mengusir keluar setan dengan cara menghukum atau menyiksanya.
Zaman Renaisans
Meskipun para pasien penyakit mental tenggelam dalam dunia takhayul dan lingkungan yang tidak berperikemanusiaan,namun di negara-negara tertentu di Eropa suara-suara diteriakan oleh tokoh agama,ilmu kedokteran dan filsafat.
 Abad XXVI-XX
Pada awal abad ke-18 dilihat sebagai "Zaman Rasio",perhatian dipusatkan pada klasifikasi dan sistem,suatu hal yang mungkin sama dengan klasifikasi sistem.\
Psikiatri
Pada tahun 1800-an ada usaha untuk menolong paien sakit mental,tetapi dokter-dokter belum menemukan penyebab,pencegahan dan penyembuhan yang efektif untuk penyakit mental walaupun mereka sudah mengklasifikasikan beribu ribu macam kekalutan mental.

Pendekatan Kesehatan Mental
Keanekaragaman konsep mengenai kesehatan mental,beberapa ahli mengemukakan semacam orientasi umum dan pola-pola wawasan kesehatan mental.Saparinah Sadli (dalam Suroso,2001:132) mengemukakan tiga orientasi kesehatan mental.Tiga orientasi tersebut diantaranya , orientasi klasik,orientasi penyesuaian diri dan terakhir orientasi pengembangan potensi.

Teori Kepribadian Sehat

Aliran Psikoanalisa
Teori psikoanalisis dikemukakan oleh Sigmund Freud.Freud berpandangan bahwa kepribadian manusia terdiri dari tiga elemen yang berinteraksi secara dinamis.Ketiga elemen tersebut adalah :
1.Id
2.Ego
3.Super Ego
Kepribadian yang sehat menurut psikoanalisa adalah jika individu bergerak menurut pola perkembangan yang ilmiah,mampu dalam mengatasi tekanan dan kecemasan dengan belajar.Psikoanalisa juga mengatakan bahwa mental yang sehat adalah seimbangnya fungsi dari superego terhadap id dan ego, lalu tidak mengalami gangguan dan penyimpangan pada mentalnya, dan yang terakhir,dapat menyesuaikan keadaan dengan berbagai dorongan dan keinginan.
Aliran Behavioristik
Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan aliran behavioristik,aliran ini dikembangkan oleh John B. Watson
Kepribadian sehat menurut aliran behavioristik:
-Memberikan respon terhadap faktor luar seperti orang lain dan lingkungannya.
-Bersifat sistematis dan bertindak dengan dipengaruhi oleh pengalaman
-Sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal,karena manusia tidak memiliki sikap dengan bawaan sendiri.
-Menekankan pada tingkah laku yang dapat diamati dang menggunakan metode yang objektif.
Aliran Humanistik
Aliran humanistik memiliki dasar pengalaman subyektif (pandangan pribadi individu terhadap dunianya).Aliran ini memberi tekanan pada kualitas-kualitas yang membedakan manusia dari binatang ,yaitu kebebasan untuk memilih (freedom for choice) dan kemampuan untuk mengarahkan perkembangan sendiri (self-direction).Banyak ahli menyebut teori tersebut sebagai self-theorities.Tokoh utama pendekatan ini adalah Carl Rogers dan Abraham Maslow.
Penyesuaian diri dan pertumbuhan
Penyesuaian diri tidak dapat dikatakan baik ataupun buruk,jadi kita dapat memberi definsi secara sederhana bahwa penyesuaian diri adalah suatu proses yang melibatkan respon-respon mental dan tingkah laku yang menyebabkan yang menyebabkan individu menanggulangi kebutuhan-kebutuhan,tegangan-tegangan,frustasi dan konflik batin serta menyelaraskan tuntutan batin dengan tuntutan yang dikenakan kepadanya oleh dunia dimana ia hidup.

Faktor pembentukan penyesuaian diri :

1.Keluarga
Keluarga sebagai lingkungan dimana seseorang tumbuh dan berkembang memiliki peranan yang sangat penting bagi penyesuaian diri seseorang.Keluarga merupakan wadah untuk membentuk karakteristik dan penyesuaian diri seseorang,oleh karena itu pola asuh orang tua juga sangat berperan penting didalamnya.
2.TemanSebaya
Aktivitas kita sehari-hari mungkin lebih banyak kita luangkan untuk berinteraksi dengan teman sebaya, oleh karena itu teman sebaya juga tidak kalah penting dalam pembentukan penyesuaian diri seseorang.Jika seseorang dengan mudah untuk menyesuaikan diri dengan teman sebayanya, maka itu merupakan salah satu alasan bahwa kesehatan mental seseorang itu baik atau sehat.

Pertumbuhan Sosial

3 aspek yang memfasilitasi pertumbuhan personal dalam suatu hubungan menurut Carl Roger (1961) :
-Keikhlasan kemampuan untuk menyadari perasaan sendiri atau menyadari kenyataan.
-Menghormati keterpisahan dari orang lain tanpa terkecuali.
-Keinginan yang terus menerus untuk memahami atau berempati terhadap orang lain.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan personal diantaranya adalah 1) Faktor biologis, 2) Faktor Geografis, 3) Faktor Budaya dan yang tidak kalah penting adalah komunikasi.

Teori Kepribadian Sehat
1) Teori Kepribadian Matang - Model Allport
Menurut Allport, individu-individu yang sehat dikatakan mempunyai fungsi yang baik pada tingkat rasional dan sadar. Orang yang matang dan sehat juga akan terus menerus membutuhkan motif-motif kekuatan dan daya hidup yang cukup untuk menghabiskan energi-energinya.
Orang yang sehat melihat ke masa depan dan hidup dalam masa depan.
2) Perkembangan Kepribadian Carl R. Rogers
Carl Rogers adalah seorang psikolog yang terkenal dengan pendekatan terapi klinis yang berpusat pada klien (client centered). Carl Ransom Rogers lahir di Oak Park, Illinois, pada 8 Januari 1902.Rogers terkenal sebagai seorang tokoh psikologi humanis, aliran fenomenologis-eksistensial, psikolog klinis dan terapis, ide-ide dan konsep teorinya banyak didapatkan dalam pengalamanpengalaman terapeutiknya. Ide pokok dari teori – teori Rogers yaitu individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah–masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri.Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri.
3) Hirearki Kebutuhan Maslow
Kebutuhan Dasar 1 : Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan Dasar 2 : Kebutuhan Keamanan (Safety)
Kebutuhan Dasar 3 : Kebutuhan Dimiliki dan Cinta (Belonging
dan Love)
Kebutuhan Dasar 4 : Kebutuhan Harga Diri (Self Esteem)
Kebutuhan Dasar 5 : Kebutuhan Aktualisasi Diri

4)Ciri-ciri kepribadian sehat Erich Fromm
Erich Fromm lahir di Frankfurt, Jerman pada tanggal 23 Maret 1900.Terakhir, Fromm tinggal di Swiss dan meninggal di Muralto, Swiss pada tanggal 18 Maret 1980.
Berikut ini kita akan mengulas lebih dalam mengenai teori-teori Fromm. Fromm mengemukakan lima kebutuhan yang berasal dari dikotomi kebebasan dan keamanan:Need For Relatedness ,Need for Identity,Need for Trancendence,Need for Rootedness.Fromm menyebut kepribadian yang sehat adalah yang berorientasi produktif dan yang tidak sehat adalah yang berorientasi non produktif.

Pengertian Stress

Arti Penting Stress “Stres adalah rasa cemas atau terancam yang timbul ketika kita menginterpretasikan atau menilai suatu situasi sebagai melampaui kemampuan psikologis kita untuk bisa menanganinya secara memadai”.
-Efek-efek stress menurut Hans Selye
Hans Selye (1946,1976) telah melakukan riset terhadap 2 respon fisiologis tubuh terhadap stress : Local Adaptation Syndrome (LAS) dan General Adaptation Syndrome (GAS).
Faktor-faktor individual dan sosial yang menjadi penyebab stres
Stress merupakan salah satu gejala yang memiliki faktor-faktor penyebab,dan akan diuraikan secara singkat faktor individual & sosial yang menjadi penyebab stress dibawah ini.
·         Faktor sosial.
Selain peristiwa penting, ternyata tugas rutin sehari-hari juga berpengaruh terhadap kesehatan jiwa, seperti kecemasan dan depresi. Dukungan sosial turut mempengaruhi reaksi seseorang dalam menghadapi stres.Dukungan sosial mencakup:  Dukungan emosional, seperti rasa dikasihi; dukungan nyata, seperti bantuan atau jasa; dan dukungan informasi, misalnya nasehat dan keterangan mengenai masalah tertentu.
·         Faktor Individual
Tatkala seseorang menjumpai stresor dalam lingkungannya, ada dua karakteristik pada stresor tersebut yang akan mempengaruhi reaksinya terhadap stresor itu yaitu: Berapa lamanya (duration) ia harus menghadapi stresor itu dan berapa terduganya stresor itu (predictability).

Tipe-tipe stress
Menurut Maramis (1990) ada empat tipe stress psikologis yaitu:
a)      Frustasi
Muncul karena adanya kegagalan saat ingin mencapai suatu tujuan.Frustasi adaa yang bersifat intrinsik (cacat badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan,bencana alam,kematian,pengangguran,perselingkuhan,dll)
b)      Konflik
Ditimbulkan karena ketidakmampuan memilih dua atau lebih macam keinginan,kebutuhan atau tujuan.Bentuk konflik digolongkan menjadi tiga bagian yaitu approach-approach conflict,approach-avoidant conflict,avoidant-avoidant conflict.
c)      Tekanan
Tekanan timbul dalam kehidupan sehari-hari dan dapat berasal dalam diri individu.Tekanan juga dapat berasal dari luar diri individu.
d)     Kecemasan
Kecemasan merupakan suatu kondisi individu merasakan kekhawatiran,kegelisahan,ketegangan,dan rasa tidak nyaman yang tidak terkendali mengenai kemungkinan akan terjadinya sesuatu yang buruk.

Pendekatan Problem Solving Terhadap Stress
Salah satu cara dalam menangani stres yaitu menggunakan metode Biofeedback dan Melakukan sugesti untuk diri sendiri, juga dapat lebih efektif karena kita tahu bagaimana keadaan diri kita sendiri. Berikan sugesti-sugesti yang positif, semoga cara ini akan berhasil ditambah dengan pendekatan secara spiritual (mengarah kepada Tuhan).
COPING STRESS
Pengertian dan jenis-jenis coping
Lazarus & Folkman pada tahun 1984 menggambarkan coping sebagai :
“...Suatu proses dimana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada antara tuntutan-tuntutan (baik itu tuntutan yang berasal dari individu maupun tuntutan yang berasal dari lingkungan) dengan sumber-sumber daya yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi stressful....”
Jenis coping :Emotion-focus coping dan Problem-focused coping.

Penyesuaian dan Pertumbuhan diri
A.    Menjelaskan konsep penyesuaian diri
Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu: penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery)


B.     Pertumbuhan Personal
1.      Penekanan pertumbuhan diri
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal padaanak yang sehat pada waktu yang normal. Jadi, pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatifyang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.
2.      Variasi pertumbuhan 
 Tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena kadang-kadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam dirinya atau mungkin diluar dirinya.
3.      Kondisi-kondisi untuk bertumbuh 
Kondisi jasmaniah seperti pembawa dan strukrur atau konstitusi fisik dan temperamen sebagai disposisi yang diwariskan, aspek perkembanganya secara intrinsik berkaitan erat dengan susunan atau konstitusi tubuh. Shekdon mengemukakan bahwa terdapat kolerasi yang tinggi antara tipe-tipe bentuk tubuh dan tipe-tipe tempramen (Surya, 1977). 

Hubungan Interpersonal
hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content melainkan juga menentukan relationship.
A. Model-Model Hubungan Interpersonal
 Model hubungan interpersonal diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Model Pertukaran Sosial
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu  transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan  sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya.
2. Model Peranan
Model peranan menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertidak sesuai dengan peranannya.
3. Model Interaksional
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat-sifat strukural, integratif dan medan.
B. Cara Memulai Hubungan Interpersonal
Adapun tahap-tahap untuk menjalin hubungan interpersonal, yaitu:
Pembentukan,Peneguhan Hubungan,Ketepatan respon,Keserasian suasana emosional ketika komunikasi sedang berlangsung.
C. Intimacy dan Hubungan Pribadi
 intimasi adalah suatu hubungan interpersonal yang berkembang dari hubungan timbal balik antara dua individu, yang terwujud melalui saling berbagi berbagi perasaan dan pikiran yang terdalam, saling membuka diri, serta saling menerima dan menghormati satu sama lain.
D. Intimacy dan Pertumbuhan
Steinberg berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.

Cinta dan Perkawinan
A. Deskripsi Cinta dan Perkawinan
Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut. “Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia sialah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.”
B. Bagaimana Memilih Pasangan

Memilih pasangan hidup bukanlah perkara mudah. Dalam memilih pasangan hidup, baik bagi laki-laki maupun perempuan keduanya memiliki hak untuk memilih yang paling tepat sebagai pasangannya.
” pertimbangan yang kita gunakan dalam memilih suatu pilihan itu tentunya memiliki tipikalnya sendiri-sendiri.” Pilihan mengenai pendamping hidup,hendaknya tidak seperti memilih sesuatu yang hanya sesaat saja.
 C. Seluk Beluk Hubungan Dalam Perkawinan

Pembahasan :
Fase bulan madu.
Fase ini merupakan periode ideal dalam pernikahan. Pasangan cenderung memiliki perasaan positif.
Fase penyesuaian.
Fase ini paling menantang dalam hubungan pernikahan. Pasangan menikah tak lagi melihat dirinya masing-masing sebagai partner. 
Fase kekosongan.
Fase ini menandai hari jadi pernikahan ke-20. Pasangan menikah secara perlahan melepas tanggung jawabnya mengasuh anak. Anak-anak mulai beranjak dewasa, bahkan mulai bisa hidup mandiri.
 D. Penyesuaian dan Pertumbuhan dalam Perkawinan
 “Penyesuaian dalam pernikahan pada dasarnya adalah hal yang berjalan sepanjang waktu, sepanjang pernikahan”.Karena menyatukan dua orang yang berbeda untuk bersatu dalam menjalani kehidupan kedepannya,butuh suatu penyesuaian dan pertumbuhan didalam perkawinan.Pendapat Dawn J. Lipthrott, LCSW mengatakan bahwa ada lima tahap perkembangan dalam kehidupan perkawinan.Tahap pertama : Romantic Love,Tahap kedua : Dissapointment or Distress. Tahap ketiga : Knowledge and Awareness,Tahap keempat : Transformation,Tahap kelima :  Real Love. 


30/05/13

TULISAN 3 : Cinta dan Perkawinan


ARTIKEL 1

Cinta dan perkawinan
“Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?
Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta" Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?"
Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)"
Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya"
Gurunya kemudian menjawab " Jadi ya itulah cinta"
Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, "Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?"
Gurunya pun menjawab "Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan"
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar / subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.
Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?"
Plato pun menjawab, "sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya"
Gurunyapun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan"
CATATAN - KECIL :
Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan... tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.
________________________________________________________
Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia2lah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.”

Tanggapan : Menurut saya artikel diatas menerangkan suatu filosofi untuk menerangkan kepada pembaca mengenai cinta dan perkawinan dengan cukup mudah.

A. Deskripsi Cinta dan Perkawinan

Sebagai manusia yang membutuhkan orang lain dalam hidupnya,tak dipungkiri bahwa cinta adalah salah satu hal yang berarti didalam hidup manusia.Berdasarkan artikel diatas,disebutkan bahwa “Cinta adanya di dalam lubuk hati”. Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.
Ketika pasangan telah menemukan yang terbaik diantara pilihan yang ada, disitulah kelanjutan cinta yaitu perkawinan,dalam artikel disebutkan bahwa “Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia sialah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.”

ARTIKEL 2

 Bagaimana Bersikap sebelum menentukan pilihan
“Menentukan pilihan memang merupakan sesuatu yang gampang-gampang susah. Gampang bila pilihan yang ada sesuai atau mendekati keinginan hati. Sebaliknya, menjadi susah bila pilihan-pilihan yang ada jauh dari keinginan hati kita. Apapun yang kita lakukan dalam kehidupan kita, sudah pasti menuntut kita untuk menentukan pilihan. Memilih sekolah, jurusan, pekerjaan, teman hidup, partai politik, presiden, tv dan lain-lain. Pilihan kita itu harus sesuai dengan kesanggupan kita. Namun, pertimbangan yang kita gunakan dalam memilih suatu pilihan itu tentunya memiliki tipikalnya sendiri-sendiri.
Pertimbangan dalam memilih untuk membeli barang-barang perabot seperti tv, tentunya kita harus mendasarkan pada tingkat kesanggupan kita. Selalu ingat bahwa semua hal ada takarannya. Kalau kita sanggupnya hanya membeli tv 14 inch, dan kesanggupan daya voltase listrik di rumah kita hanya sanggup untuk tv ukuran segitu, lalu mengapa kita memaksakan untuk membeli tv yang dimensinya lebih besar? Pertimbangan lainnya dalam menentukan pilihan pembelian tv itu juga harus diselaraskan dengan kebutuhan kita. Kalau kita jarang di rumah dan juga hampir tidak memiliki waktu untuk menonton tv, lalu mengapa kita harus membeli tv? Kita tidak membutuhkan “kotak ajaib” itu. Nilai atau fungsi benda itu tidak ada bagi kita.
Lain halnya dengan pertimbangan yang kita gunakan dalam memilih pasangan hidup. Seumpama Anda belum menikah maka sebaiknya kita tidak perlu risau. Kitalah yang tahu tentang diri kita. Orang lain atau keluarga kita mungkin risau melihat keadaan kita. Ajak mereka berbicara dan katakan apa adanya. Memilih teman hidup tidak sama dengan kita memilih perabot. Bila suatu hari kita bosan dengan perabot yang kita miliki, maka kita dapat saja menggantinya suatu hari. Apakah Anda ingin memperlakukan pasangan Anda seperti perabot saja? Tentu tidak, bukan? Bergaulah dengan banyak orang. Kita bisa memperhatikan dan menimbang-nimbang yang mana diantara mereka yang dapat kita masukkan dalam kategori calon teman hidup kita. Ini bukan berarti kita bersikap seperti seorang playboy atau playgirl. Hal tersebut sebaiknya hanya dilakukan bila kita belum mendapatkan orang yang telah kita anggap masuk dalam kategori calon serius. Kita harus menghargai komitmen kita. Ingatlah selalu adagium “You are what you say.”
Menentukan pasangan hidup bukanlah perkara gampang dan main-main. Memilih pasangan atau teman hidup agak setali tiga uang dengan memilih para wakil-wakil kita di parlemen dan memilih seorang presiden. Bedanya, dampak memilih pasangan hidup tentunya hanya terjadi pada sedikit orang, yaitu pada diri kita, pasangan, anak-anak (kalau nantinya ada), keluarga kita dan keluarga pasangan kita. Memilih para wakil kita di parlemen dan memilih presiden, dampaknya akan sangat luas, tidak hanya pada diri kita tetapi kita semua sebagai warga negara. (nfr)”

Tanggapan:
Menurut saya,artikel diatas sangat menarik,memberi saran bahwa pilihan mengenai pendamping hidup,hendaknya tidak seperti memilih sesuatu yang hanya sesaat saja dan menuntut kita untuk tetaplah yakin kepada Tuhan,dan berusaha untuk menemukan pilihan yang terbaik untuk kedepannya.

B. Bagaimana Memilih Pasangan

Memilih pasangan hidup bukanlah perkara mudah. Dalam memilih pasangan hidup, baik bagi laki-laki maupun perempuan keduanya memiliki hak untuk memilih yang paling tepat sebagai pasangannya. Maka dari itu harus benar-benar diperhitungkan ketika memilih pasangan yang baik.
Dalam artikel diatas,disebutkan bahwa,” pertimbangan yang kita gunakan dalam memilih suatu pilihan itu tentunya memiliki tipikalnya sendiri-sendiri.” Pilihan mengenai pendamping hidup,hendaknya tidak seperti memilih sesuatu yang hanya sesaat saja.Namun,pendamping hidup adalah untuk selamanya,sehingga hendaknya jangan sampai salah dalam memilih.Kata hati dan perasaan sangat dibutuhkan dalam memilih seseorang yang terbaik diantara pilihan yang ada.Dan tetaplah yakin kepada Tuhan,dan berusaha untuk menemukan pilihan yang terbaik untuk kedepannya.

ARTIKEL 3

Penyesuaian dalam Pernikahan
“Banyak pasangan yang akhirnya berpisah karena merasa sudah saling tidak cocok lagi. Ketidakcocokan yang  dirasakan membuat pertengkaran sering terjadi di antara mereka. Ketika ditanyakan apa persoalannya, mereka menjawab hanya masalah sepele saja. Lantas pertanyaannya, mengapa hanya karena masalah sepele saja bisa membuat pertengkaran dan akhirnya menjadi perpisahan dalam pernikahan?
Umumnya banyak pasangan yang kurang menyadari pentingnya penyesuaian dalam pernikahan. Sebagian berpikir bahwa penyesuaian dengan pasangan toh sudah dilakukan saat masa pacaran sebelum menikah; ada pula yang beranggapan bahwa penyesuaian hanya perlu dilakukan di masa-masa awal pernikahan saja. Akibat dari persepsi tersebut, mereka tidak siap ketika menghadapi perubahan ataupun perbedaan pada diri pasangannya. Hal tersebut akhirnya bisa memunculkan pikiran negatif terhadap pasangan yang seringkali bila tidak dikonfirmasi akan menimbulkan kesenjangan diantara suami istri.
Penyesuaian dalam pernikahan pada dasarnya adalah hal yang berjalan sepanjang waktu, sepanjang pernikahan itu bahkan hingga salah satu dari pasangan meninggal dunia penyesuain tetap menjadi kebutuhan dan keharusan. Di awal perkenalan sebelum menikah, keduanya masih saling berkenalan luarnya saja, hanya mengenal kepribadian calon pasangannya secara umum saja. Tentu itu tidak cukup. Oleh karenanya, di awal pernikahan pun pasangan masih perlu penyesuaian dan pengenalan yang lebih mendalam lagi antara satu sama lain, begitu seterusnya, penyesuaian pun perlu terus dilakukan dalam pernikahan ketika istri hamil, anak pertama lahir, dst.
Penyesuaian dengan pasangan juga butuh kesabaran dan kemauan untuk saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak semua kebiasaan dan sifat-sifat pasangan akan sejalan dan sesuai dengan diri. Oleh karenanya perlu memahami tentang kebiasaan pasangan, sifat dan karakternya, hal-hal yang ia sukai dan ia tidak sukai, dsb. Perbedaan diantara pasangan suami istri adalah suatu hal yang wajar, dan karena perbedaan itulah Allah mempertemukan dan menyatukannya agar satu sama lain bisa saling melengkapi. Ya, agar bisa saling melengkapi bukan untuk saling menyalahkan. Suami dengan kelebihannya mampu membimbing dan menutupi kekurangan istri, begitu sebaliknya istri mampu pula dengan kelebihannya menutupi kekurangan yang ada pada diri suami. Dengan  adanya saling pengertian satu sama lainnya ini, maka keharmonisan dalam rumah tangga akan selalu menghiasi.
Perbedaan bukanlah sesuatu yang harus disamakan ataupun dimusnahkan. Perbedaan adalah warna yang bisa menghiasi dan menceriakan segalanya. Bila kita mampu menikmati, menerima dan mensyukuri setiap perbedaan yang ada, maka semua akan terasa lebih indah, bahkan terkadang bisa menjadi buah canda diantara pasangan. Sebaliknya bila perbedaan selalu dijadikan ancaman maka tak dapat dipungkiri pertengkaran dan ketidakcocokan akan selalu hadir.
Kebahagiaan dalam pernikahan kuncinya terletak di hati, dan berada pada diri masing-masing pasangan. Bila hati keduanya selalu menyatu untuk membahagiakan rumah tangganya, maka keduanya juga akan saling merasakannya. Karena hati itu bergetar. Maka ketika dua hati menyatu dan seirama, ia akan saling beresonansi, dan saling menggetarkan satu sama lainnya. Bila getaran yang disampaikan adalah getaran hati yang bahagia maka juga akan dirasakan oleh yang lainnya, namun bila getaran yang disampaikan sedih, kecewa dan buruk sangka maka getaran yang disampaikan juga akan terasa negatif. Sehingga tak heran, bila kita terkadang mampu merasakan apa yang dirasakan oleh pasangan kita bila kita benar-benar menghidupkan hati.”
Tanggapan Artikel:
Sebagai individu yang memiliki sifat maupun karakteristik yang berbeda satu sama lainnya,sudah sewajarnya ada perbedaan dalam hal-hal tertentu di dalam suatu hubungan.Begitu pula dalam suatu ikatan perkawinan.Seluk beluk hubungan dalam perkawinan dirasa menjadi satu tahapan yang dirasakan oleh setiap pasangan. Dari artikel diatas disebutkan bahwa “Kebahagiaan dalam pernikahan kuncinya terletak di hati, dan berada pada diri masing-masing pasangan. Bila hati keduanya selalu menyatu untuk membahagiakan rumah tangganya, maka keduanya juga akan saling merasakannya.”

      C. Seluk Beluk Hubungan Dalam Perkawinan

Pembahasan :
Fase bulan madu.
Fase ini merupakan periode ideal dalam pernikahan. Pasangan cenderung memiliki perasaan positif. Hubungan pun selalu romantis. Pasangan selalu membicarakan berbagai hal yang belum pernah mereka bahas sebelumnya. Kalau pun muncul konflik, pasangan menikah di tahapan bulan madu ini akan fokus menjadi solusi. Fase ini berlangsung antara enam bulan hingga dua tahun.
 
Fase penyesuaian.
Fase ini paling menantang dalam hubungan pernikahan. Pasangan menikah tak lagi melihat dirinya masing-masing sebagai partner. Psikolog Azin Nasseri mengatakan, “Tingginya angka perceraian lebih banyak berkaitan dengan cara pasangan menghadapi konflik. Kurangnya kemampuan dan pengetahuan mengenai cara membangun hubungan yang sehat. Termasuk cara memahami dinamika cinta yang alami terjadi.”

Fase kekosongan.

Fase ini menandai hari jadi pernikahan ke-20. Pasangan menikah secara perlahan melepas tanggung jawabnya mengasuh anak. Anak-anak mulai beranjak dewasa, bahkan mulai bisa hidup mandiri. Pada periode ini, pasangan menikah mulai memikirkan apa yang ingin dilakukan bersama menikmati kehidupan berikutnya
     
      D. Penyesuaian dan Pertumbuhan dalam Perkawinan

Dalam artikel diatas disebutkan bahwa “Penyesuaian dalam pernikahan pada dasarnya adalah hal yang berjalan sepanjang waktu, sepanjang pernikahan”.Karena menyatukan dua orang yang berbeda untuk bersatu dalam menjalani kehidupan kedepannya,butuh suatu penyesuaian dan pertumbuhan didalam perkawinan.Pendapat Dawn J. Lipthrott, LCSW, seorang psikoterapis dan juga marriage and relationship educator and coach, dia mengatakan bahwa ada lima tahap perkembangan dalam kehidupan perkawinan.Tahap pertama : Romantic Love,Tahap kedua : Dissapointment or Distress. Tahap ketiga : Knowledge and Awareness,Tahap keempat : Transformation,Tahap kelima :  Real Love. 

ARTIKEL 4

Perceraian dan Keluarga yang Terancam Bahaya 

 “ Kita hidup di  era yang ditandai oleh terurainya ikatan keluarga yang dulunya pernah mengikat ”(pandangan kaum konservatif)
Maraknya pemberitaan tentang perceraian terlebih yang terjadi atas keluarga kaum selebritis menjadi sebuah hentakan pada ekspektasi sosial kita akan suatu kehidupan keluarga yang harmonis, bahagia dan sejahtera. Kekecewaan sosial tersebut menyisakan pertanyaan, apakah sudah sedemikian rapuhnya bangunan keluarga dewasa ini, sehingga tidak ada pilihan lain kecuali harus menyatakan perceraian?
Perceraian melemahkan harapan konservatif akan sebuah perkawinan yang langgeng (hanya maut yang memisahkan) dan membawa akibat negatif karena keluarga memiliki ikatan emosional yang paling erat, intim dan mendalam di antara para anggotanya.
Peran Keluarga
Keluarga melaksanakan peran yang  eksklusif. Pertama dan terutama, dengan membentuk keluarga pasangan yang melangsungkan perkawinan menyatakan komitmen dalam sebuah ikatan lahir-batin  mencapai kebahagiaan.
Peran biologis yakni melahirkan anak dan mengembangkan keturunan demi mempertahankan kelangsungan hidup. Jika peran melahirkan tidak dapat dilaksanakan maka tidak menutup kemungkinan untuk pengangkatan atau pengadopsian anak karena keluarga bukan saja mereka yang terhubung secara pertalian darah tetapi juga secara pengangkatan  atau pengadopsian.
Peran afeksi yakni membangun hubungan yang harmonis dan intim antara anggota keluarga baik itu hubungan suami-isteri maupun hubungan orang tua – anak. Peran ini amat penting untuk pembentukan karakter dan kepribadian anak.
Peran ekonomis, sosialisasi dan edukasi yaitu pemenuhan kebutuhan fisik-ekonomis dan pengenalan serta penanaman  nilai-nilai luhur,  kebajikan sebagai bekal bagi anak.
Peran perlindungan yaitu orang tua sebagai pelindung anak dan anak-anak merupakan perlindungan orang tua di masa lanjut usia.
Oleh karena peran keluarga yang eksklusif maka perceraian adalah momok sosial yang perlu ditekan.
Perceraian berhubungan dengan penyesuaian keluarga terhadap perubahan dalam siklus hidup keluarga yang biasanya dihitung mulai dari saat pertama pasangan itu menikah sampai salah satu darinya meninggal dunia.Dengan begitu, keluarga  berada dalam suatu dinamika yang terus berkembang sehingga perubahan terkadang mempengaruhi kelangsungan hidup keluarga bahkan menciptakan  krisis. Kemampuan adaptiflah yang mendeterminasi kepuasan dan kekecewaan keluarga.
Kekecewaan biasanya muncul dalam keluhan antar pasangan yang menikah. Berdasarkan studi Terman tahun 1983 yang melibatkan 792 pasangan diketahui bahwa hal yang paling dikeluhkan isteri terhadap suami adalah egois, gagal dalam kerja, tidak jujur, banyak mengeluh, kurang menyayangi, ketidakterbukaan, menang sendiri, tidak perhatian pada anak, tidak betah di rumah. Sebaliknya hal-hal yang paling dikeluhkan suami terhadap isteri yakni banyak mengomel, kurang menyayangi, egois, terlalu banyak intervensi urusan/kesenangan suami, ceroboh/teledor, lekas/mudah marah, angkuh dan tidak jujur. (RB Soemanto:2009).
Relasi seksual dan perceraian
Marc Iver dan Page menyebut bahwa salah satu fungsi pokok keluarga di jaman modern selain prokreasi untuk melahirkan dan membesarkan anak tetapi juga kepuasan hubungan seksual suami isteri . Pada zone peranan afeksi keluarga, krisis relasi seksual mudah meletup.Dan ini didukung  individualisasi yakni sejumlah gejala di mana masyarakat yang tidak lagi mau tergantung pada pada tradisi sosial, adat istiadat dalam  pembentukan identitas diri dan seksualitas mereka tetapi lebih mendasarkannya pada pilihan dan keputusan pribadi. Individualisasi melihat bahwa perkawinan tidak lagi memegang hak istimewa dalam hubungan seksual karena hubungan seksual bisa saja dilakukan di luar atau di dalam perkawinan.
Tidak diharapkan bahwa konflik dan krisis yang dialami oleh keluarga harus bersolusi perceraian karena perceraian memecahkan masalah sekaligus menyebabkan  masalah berikutnya. Perceraian adalah gambaran institusi keluarga yang terancam bahaya oleh karena baik pasangan menikah yang tidak mempunyai anak dan apa lagi pasangan yang mempunyai anak, perceraian  melahirkan akibat-akibat destruktif terlebih bagi anak-anak. Menurut Paul Amato dan Alan Booth, terlalu tinggi harga yang  dibayar masyarakat kita yang memilih hidup berpisah dan bercerai. Perceraian mungkin penyelesaian yang tepat bagi orang dewasa, tapi tidak untuk anak-anak, karena anak-anaklah  yang menderita dampak destruktif dan menyakitkan dari perceraian itu dalam jangka panjang serta menimbulkan kekaburan persepsi anak terhadap diri, seksualitas, dan hubungan-hubungan intim.
Orang tua dalam keluarga konflik tinggi  sebenarnya demi anak-anak mereka, berusaha untuk tetap bersama dan melakukan beberapa pengorbanan demi memenuhi tanggung jawab sebagai orang tua.

E.Perceraian dan Pernikahan Kembali
Tanggapan Artikel dan Pembahasan:
Esensi dalam pernikahan adalah menyatukan dua manusia yang berbeda latar belakang. Untuk itu kesamaan pandangan dalam kehidupan lebih penting untuk diusahakan bersama.Namun,ketika ada satu atau lain hal yang mengarahkan pada terjadinya perceraian,banyak sekali dampak yang dimunculkan kususnya bagi keluarga.Namun,tidak sedikit dari mereka yang bercerai untuk mengambil keputusan lain. Menikah kembali setelah perceraian mungkin menjadi keputusan yang membingungkan untuk diambil. Karena orang akan mencoba untuk menghindari semua kesalahan yang terjadi dalam perkawinan sebelumnya dan mereka tidak yakin mereka bisa memperbaiki masalah yang dialami. Mereka biasanya kurang percaya dalam diri mereka untuk memimpin pernikahan yang berhasil karena kegagalan lama menghantui mereka dan membuat mereka ragu-ragu untuk mengambil keputusan.

ARTIKEL 5 

Alasan Mengapa Seseorang Tetap Single Dalam Hidupnya
"Sebenarnya ada 2 alasan utama mengapa seseorang tetap single dalam hidupnya: karena pilihan sendiri atau karena kesalahan-kesalahan yang disadari maupun yang tidak. Alasan pertama tentu tidak ada masalah sama sekali karena kamu berkomitmen untuk tidak memiliki pasangan (entah karena tidak mau terburu-buru atau memang memilih untuk single selamanya) dan tidak mempermasalahkan itu.
Namun, jika kamu sangat berharap namun tidak pernah mendapatkannya dan itu membuatmu depresi, mungkin saja kamu harus merefleksikan dirimu. Berikut ini adalah 10 alasan mengapa seseorang tetap single dalam hidupnya:
Mengutamakan karir
Kita semua setuju bahwa karir merupakan salah satu hal terpenting dalam hidup. Sah-sah saja mengejar karir yang baik untuk masa depan. Tapi kamu harus ingat bahwa hidup bukan semata-mata mengejar karir yang lebih baik.
Jika kamu bermimpi memiliki sebuah keluarga yang bahagia tentu kamu harus menyediakan waktu untuk mencari pasangan hidup. Meskipun kamu bekerja di lingkungan yang membuatmu banyak berinteraksi dengan orang lain, tetapi jika kamu tidak pernah membuka mata dan hati maka itu akan menghalangi kamu untuk mendapatkan orang yang kamu cintai dan mencintai kamu.
Pengalaman masa lalu yang pahit
Trauma masa lalu juga bisa menghalangi seseorang untuk mendapatkan pasangan hidup. Perasaan takut disakiti atau takut hubungan kembali gagal menimbulkan efek traumatis yang kadang sulit disembuhkan. Kuncinya adalah kamu harus terus move on karena kebahagiaanmu tidak berada dalam orang-orang tertentu, kebahagiaan ada dalam dirimu sendiri.
Hidup di lingkaran sosial yang kecil
Pergaulan yang sempit tentu akan mengurangi peluangmu mendapatkan pasangan hidup karena kamu hanya bertemu dengan sedikit orang. Orang yang banyak berinteraksi dengan orang lain dan orang yang terus menerus di depan komputer tentu memiliki peluang yang jauh berbeda. Tentu saja ini masuk akal karena komunikasi adalah awal dari sebuah hubungan, tanpa komunikasi tidak akan terbentuk hubungan yang baik. Perbesarlah lingkaran sosialmu namun tetap selektif.
Tidak menjaga penampilan
Penampilan yang berantakan, berat badan yang berlebih, atau bau badan yang tidak sedap tentu tidak menarik perhatian orang lain. Memang, kita tidak bisa menilai seseorang sepenuhnya dari penampilan fisiknya saja, tetapi realistislah, kita pasti menilai orang pertama kali dari apa yang kita lihat, kan?
Meskipun cover buku belum tentu menunjukkan kualitas isinya, tetapi cover buku yang bagus akan menarik perhatian dan meningkatkan penjualan. Tampil menarik tidak harus memiliki wajah cantik. Kebersihan, kerapian, dan kesehatan fisik juga sangat berpengaruh.
Takut untuk memulai
Belum memiliki pengalaman sebelumnya mungkin cukup menghambat kamu untuk melangkah. Takut salah atau takut ditolak merupakan hal umum yang terjadi. Memulai sesuatu yang baru tidaklah mudah, namun jika kamu tidak mencoba, kamu tidak akan pernah tahu apakah ia adalah jodohmu atau bukan.
Ingin Bebas
Beberapa orang berpikir bahwa memiliki kekasih membuat mereka tidak bisa bebas melakukan kegiatan-kegiatan yang mereka inginkan. Keharusan membagi waktu, tenaga, pikiran, atau uang membuat mereka menganggap itu mengganggu, merepotkan, atau membuat mereka tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan.
Untuk beberapa saat, anggapan seperti ini bisa dibenarkan entah karena tidak ada waktu untuk membina hubungan atau finansial yang belum mumpuni. Namun dalam jangka waktu yang lama, anggapan seperti ini akan menghambat kamu untuk mendapatkan pasangan hidup. Pengecualian jika kamu memang sudah berkomitmen dari awal tidak ingin menikah dan tidak mempermasalahkan itu.
Childish
Terlalu manja dan tidak bisa berpikir secara dewasa adalah faktor penghambat yang lain. Hubungan percintaan khususnya ketika sudah menginjak umur 20an membutuhkan pemikiran yang dewasa untuk dapat membina hubungan yang serius.
Terlalu Agresif
Terus menerus berdiam diri akan menghambatmu, begitu juga jika kamu terlalu agresif. Agresivitas yang berlebihan seringkali membuat orang lain takut terhadap dirimu atau berpikir kamu terlalu mudah.
Membosankan
Orang yang membosankan umumnya mengalami kendala dalam berkomunikasi dan aktivitas sehari-harinya yang datar-datar saja. Tidak ada cara lain selain kamu harus memperbanyak wawasan dan banyak beraktivitas positif. Akan ada banyak cerita yang bisa kamu ceritakan pada orang lain.
Hidup di Dunia Virtual
Zaman sekarang games dan internet sudah sangat berkembang pesat. Banyak sekali teknologi virtual reality yang dijual di pasaran. Di satu sisi perkembangan teknologi berdampak positif namun di sisi lain berdampak negatif jika berlebihan digunakan. Dunia virtual reality seperti online games sering membuat orang-orang terperangkap di dalamnya.
Tidak hanya anak-anak dan remaja, bahkan orang dewasapun sering terjebak dalam dunia ini. Jika kamu termasuk orang-orang seperti ini, sadarilah bahwa kamu memiliki hidup yang nyata yang harus kamu jalani dan kamu hanya punya satu kesempatan, tidak seperti virtual reality yang akan berakhir ketika kamu mengeklik ”Shut Down” dan bisa dimulai lagi ketika kamu memencet tombol ”Turn On” di komputermu.
Memang benar jodoh ada di tangan Tuhan, tetapi kamu juga harus berusaha dan berdoa, bisa merefleksikan dirimu dan mulai bertanya pada diri sendiri apakah kamu sudah berusaha yang terbaik namun belum berhasil atau karena kesalahan-kesalahan yang sudah kamu lakukan yang menghambat kamu mendapatkan jodoh. Itu adalah 10 alasan mengapa kamu masih single.”

F. Single Life
Tanggapan dan Pembahasan :
Dalam artikel diatas, alasan alasan seperti mengutamakan karir,masih ingin bebas, takut dengan masa lalu yang pahit,dan lainya ,menjadi penyebab mengapa seseorang masih melajang meskipun umurnya sudah cukup untuk berumah tangga.Banyak yang mengatakan seorang masih melajang karena terlalu banyak memilih atau ingin mendapat pasangan yang sempurna sehingga sulit mendapatkan jodoh.

Di artikel disebutkan bahwa “Memang benar jodoh ada di tangan Tuhan, tetapi kamu juga harus berusaha dan berdoa, bisa merefleksikan dirimu dan mulai bertanya pada diri sendiri apakah kamu sudah berusaha yang terbaik namun belum berhasil atau karena kesalahan-kesalahan yang sudah kamu lakukan yang menghambat kamu mendapatkan jodoh.”


Sumber: