23/10/13

Tugas Psikologi Manajemen : Psikologi Manajemen,Organisasi dan Komunikasi


PSIKOLOGI MANAJEMEN

Definisi Psikologi Manajemen

Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Stoner).
Lalu,apa pengertian psikologi manajemen?
Psikologi manajemen adalah ilmu tentang bagaimana mengatur / me-manage sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan.
Kaitannya dengan psikologi:
Dengan ditemukan dan dikembangkannya ilmu psikologi, diketahui bahwa unsur SDM ternyata merupakan yang terpenting dari ketiga modal kerja perusahaan manapun.
Pasalnya, ilmu psikologi yg memang berpusat pada manusia, mampu mengintervensi berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan, dsb dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa dicapai kinerja SDM yang setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan.

ORGANISASI
Definisi Organisasi

Organisasi dapat diartikan sebagai suatu alat atau wadah kerjasama untuk mencapai tujuan bersama dengan pola tertentu ,yang perwujudannya memiliki kekayaan baik fisik maupun non fisik.

Menurut Rosenzweig,organisasi dapat dipandang sebagai : (1) Sistem sosial,yaitu orang-orang dalam kelompok,(2) integrasi atau kesatuan dari aktivitas-aktivitas orang-orang yang bekerja sama dan (3) orang-orang yang berorientasi dan berpedoman pada tujuan bersama.Sedangkan Allen, berpendapat bahwa organisasi adalah suatu proses identifikasi dan pembentukan serta pengelompokan kerja , mendefinisikan dan mendelegasikan wewenang dan tanggung jawab dan menetapkan hubungan-hubungan dengan maksud untuk memungkinkan orang-orang bekerja sama secara efektif dalam menuju tujuan yang ditetapkan.

Dimensi Desain Organisasi

Menurut Richard L. Daft (1998:15), dimensi desain organisasi terdiri dari 2 tipe yaitu:
1. Dimensi Struktural, yaitu dimensi yang menggambarkan karakteristik internal dari organisasi dan menciptakan suatu dasar untuk mengukur dan membandingkan organisasi. Dimensi struktural terdiri dari:

a. Formalisasi
Formalisasi mengacu pada suatu tingkat yang terhadapnya pekerjaan di dalam organisasi itu dibakukan (Bedelan & Zammuto, 1991:129). Jika suatu pekerjaan sangat diformalkan, maka pelaksana pekerjaan tersebut mempunya tingkat keleluasaan yang minimum mengenai apa yang harus dikerjakan, kapan harus dikerjakan, dan bagaimana ia harus mengerja kan. Ada 3 macam jenis formalisasi, yaitu: Formalisasi berdasarkan pekerjaan, formalisasi berdasarkan aliran pekerjaan, dan formalisasi berdasarkan peraturan.

b. Spesialisasi
Spesialisasi hakikatnya ialah daripada dilakukan oleh satu individu, lebih baik seluruh pekerjaan itu dipecah-pecah menjadi sejumlah langkah, dengan tiap langkah diselesaikan oleh seorang individu yang berlainan (Daft, 1998:16). Suatu spesialisasi kerja ikatakan bersifat ekstensif apabila setiap karyawan hanya mengerjakan tugas-tugas tertentu yang sempit wilayahnya. Suatu spesialisasi dikatakan rendah apabila karyawan mengerjakan tugas-tugas yang mempunyai batasan yang luas. Ada 2 (dua) tipe spesialisasi, yaitu:
1. Spesialisasi horisontal
Spesialisasi horisontal ini menunjuk pada ruang lingkup suatu pekerjaan, atau pada tingkat mana seorang karyawan melakukan suatu pekerjaan yang lengkap. Semakin kecil bagian suatu karyawan terhadap suatu pekerjaan secara keseluruhan, maka semakin horizontal tingkat spesialisasi pada pekerjaan tersebut.
2. Spesialisasi vertikal
Spesialisasi vertikal menunjuk pada tingkat kontrol yang dimiliki oleh seorang karyawan terhadap suatu pekerjaan. Semakin banyak keputusan yang dibuat oleh seorang karyawan, mengenai bagaimana dan kapan harus melakukan suatu tugas, dan semakin terbatas perilaku karyawan untuk melakukan tugas tersebut diatur oleh peraturan, prosedur, pengawasan ataupun teknologi, semakin rendah tingkat spesialisasi vertikalnya.

c. Standarisasi
Standarisasi menunjuk pada prosedur yang di desain untuk membuat aktivitas organisasi menjadi teratur, dan hal ini secara otomatis akan memfasilitasi adanya koordinasi (Jackson & Morgan, 1978:92).

d. Hierarki Otoritas.
Otoritas merupakan bentuk dari kekuasaan yang ada pada suatu posisi atau kantor (Robbins, 2003:429). Ketika hak untuk mengatur bawahan termasuk dalam otoritas seseorang, maka otoritas tersebut memberikan hak untuk membatasi pilihan dan perbuatan yang dilakukan oleh bawahan. Hirarki berhubungan dengan “span of control”, yaitu jumlah karyawan yang melapor pada seorang supervisor. Ketika span of control ini sempit, hirarki otoritasnya cenderung tinggi, ketika span of control ini lebar, hirarki otoritasnya akan lebih pendek.

e. Kompleksitas
Kompleksitas menunjuk pada jumlah aktivitas maupun subsistem pada organisasi. Kompleksitas bisa diukur melalui 3 (tiga) diferensiasi yaitu vertikal, horizontal dan spatial.
1. Diferensiasi vertikal. Semakin banyak tingkatan yang ada antara manajemen puncak
dengan bagian operasional, organisasi tersebut semakin kompleks.
2. Diferensiasi horisontal adalah jumlah jenis pekerjaan satu departemen yang ada pada
organisasi. Semakin banyak jumlah pekerjaan yang ada pada suatu organisasi yang
membutuhkan pengetahuan dan keahlian khusus, semakin tinggi kompleksitas horisontal pada organisasi tersebut.
3. Diferensiasi spasial adalah jumlah daerah dari keberadaan organisasi secara fisik.
Dengan meningkatnya diferensiasi spasial ini maka semakin tinggi pula kompleksitasnya.

f. Sentralisasi
Istilah sentralisasi mengacu pada sampai tingkat mana pengambilan keputusan dipusatkan pada suatu titik tunggal dalam organisasi. Dikatakan bahwa ketika manajemen puncak membuat keputusan-keputusan kunci dalam organisasi dengan masukan yang terbatas dari
karyawan yang berada di bawahnya, maka organisasi tersebut memiliki tingkat sentralisasi tinggi. Sebaliknya, semakin banyak karyawan yang berada di bawah manajemen puncak memberikan masukan bagi pengambilan keputusan, maka dikatakan bahwa organisasi
lebih terdesentralisasi.Pada perusahaan yang memiliki karakter sentralisasi tinggi akan mempunyai struktur yang berbeda dengan perusahaan yang terdesentralisasi.

g. Profesionalisme
Profesionalisme adalah level dari pendidikan formal dan training yang harus dimiliki dan diikuti oleh karyawan. Profesionalisme dianggap tinggi apabila karyawan harus mengikuti training dalam jangka waktu yang lama untuk memegang suatu pekerjaan atau jabatan pada perusahaan.

h. Personnel ratio.
Personel ratio menunjuk pada jumlah karyawan pada suatu fungsi atau departemen tertentu.

2. Dimensi Kontekstual, yaitu dimensi yang menggambarkan keseluruhan dari suatu organisasi. Dimensi ini memperlihatkan susunan organisasi yang mempengaruhi dan membentuk suatu dimensi struktural organisasi, yang terdiri dari:
a. Ukuran. Ukuran adalah besarnya suatu organisasi yang terlihat dari jumlah orang dalam
organisasi tersebut.
b. Teknologi Organisasi. Teknologi organisasi adalah dasar dari subsistem produksi, termasuk teknik dan cara yang digunakan untuk mengubah input organisasi menjadi output.
c. Lingkungan. Lingkungan mencakup seluruh elemen di luar lingkup organisasi. Elemen
kunci mencakup industri, pemerintah, pelanggan, pemasok dan komunitas finansial.

Bentuk Desain Organisasi

Bentuk dari desain organisasi ini ditentukan oleh tingkat formalisasi yang dilakukan, tingkat sentralisasi dalan organisasi, kualifikasi karyawan, span of control yang ada serta komunikasi dan koordinasi yang ada dalam organisasi (Robbins,2003:136). Bentuk desain organisasi terdiri dari:
a. Organic
Pada organisasi yang berbentuk organic, maka dalam organisasi ini terdapat tingkat formalisasi yang rendah, terdapat tingkat sentralisasi yang rendah, serta diperlukan training dan pengalaman untuk melakukan tugas pekerjaan. Selain itu terdapat span of control yang sempit serta adanya komunikasi horisontal dalam organisasi.
b. Mostly Organic
Pada organisasi yang berbentuk mostly organic, formalisasi dan sentralisasi yang diterap
kan berada di tingkat moderat. Selain itu diperlukan pengalaman kerja yang banyak
dalam organisasi ini. Terdapat span of control yang bersifat antara moderat sampai lebar serta lebih banyak komunikasi horisontal yang bersifat verbal dalam organisasi tersebut.
c. Mechanistic
Pada organisasi yang berbentuk mechanistic, terdapat ciri-ciri yaitu: adanya tingkat formalisasi yang tinggi, tingkat sentralisasi yang tinggi, training atau pengalaman kerja yang sedikit atau tidak terlalu penting, ada span of control yang lebar serta adanya komunikasi yang bersifat vertikal dan tertulis.
d. Mostly Mechanistic
Pada jenis organisasi ini, terdapat ciri-ciri yaitu: adanya formalisasi dan sentralisasi pada tingkat moderat, adanya training-training yang bersifat formal atau wajib, span of control yang bersifat moderat serta terjadi komunikasi tertulis maupun verbal dalam organisasi tersebut.

KOMUNIKASI

Definisi Komunikasi

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui media)

Menurut Harold Laswell,komunikasi adalah gambaran mengenai siapa, mengatakan apa, melalui media apa, kepada siapa, dan apa efeknya.Raymond Ross menyatakan komunikasi adalah proses menyortir, memilih, dan pengiriman simbol-simbol sedemikian rupa agar membantu pendengar membangkitkan respons/ makna dari pemikiran yang serupa dengan yang dimaksudkan oleh komunikator.

Dimensi Komunikasi

1.Komunikasi sebagai proses
Jika komunikasi dipandang sebagai proses, komunikasi yang dimaksud adalah suatu kegiatan yang berlangsung secara dinamis. Sesuatu yang didefinisikan sebagai proses berarti unsur-unsur yang ada didalamnya bergerak aktif dinamis dan tidak tetap.

2.Komunikasi sebagai simbolik
Simbol dapat dinyatakan dalam bentuk bahasa lisan atau tertulis (Verbal) maupun melalui isyarat – isyarat tertentu (non- Verbal).Simbol disini berarti sebuah tanda atau lambang hasil kreasi manusia atau bisa dikatakan sebuah tanda hasil kreasi manusia yang dapat menunjukkan kualitas budaya manusia dalam berkomunikasi dengan sesamanya. Dalam pernyataan “kualitas budaya manusia dalam berkomunikasi dengan sesamanya” dapat ditelaah kembali bahwa banyak faktor yang mempengaruhi adanya simbol itu sendiri yaitu :
• Faktor budaya
• Faktor psikologis
Sehingga meskipun pesan yang disampaikan sama tetapi bisa saja berbeda arti bilamana individu yang menerima atau receiver nya mempunyai kerangka berpikir berbeda begitu juga latar belakang budayanya.

3.Komunikasi sebagai sistem
Sistem sering kali didefinisikan sebagai suatu aktivitas dimana semua komponen atau untuk yang mendukungnya saling berinteraksi satu sama lain dalam menghasilkan luaran atau dengan kata lain seperangkat komponen yang bergantung artinya mengikuti permainan yang ada, sistem terbagi atas 2 :
• Sistem terbuka : dimana prosesnya terbuka dan pengaruh lingkungan yang ada disekitarnya.
• Sistem tertutup : prosesnya tertutup dari pengaruh luar (lingkungan).

4.Komunikasi sebagai transaksional
Komunikasi tidak pernah terjadi tampa melibatkan orang lain, dalam proses yang demikian akan timbul action dan interaction diantara para pelaku komunikasi.

5.Komunikasi sebagai aktivitas sosial
Hubungan antar sesama manusia, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya atau untuk kepentingan aktualitas diri dalam membicarakan masalah-masalah politik, sosial, budaya, seni dan teknologi.

6. Komunikasi sebagai multidimensional
Kalau komunikasi dilihat dari perspektif multidimensional ada 2 tingkatan yang dapat diidentifikasikan yakni dimensi isi (contet dimension) dan dimesi hubungan (relationship dimension).
Dimensi isi : lebih menunjukkan pada kata, bahasa dan informasi yang dibawa pesan. Jadi seperti orang madura berbicara dengan orang jawa pasti bahasa yang mereka gunakan pun juga berbeda disinilah dimensi isi menunjukkan hal tersebut dalam komunikasi.
Dimensi hubungan : menunjukkan bagaimana proses komunikasi berinteraksi satu sama lain. Masih dengan contoh diatas dimensi hubungan menunjukkan bagaimana mereka berinteraksi, media apa yang mereka gunakan, apakah ada bahasa tubuh atau simbol-simbol yang digunakan. Itu dilihat dari dimensi hubungan.
Asumsi dasar hubungan multidimensional adalah bahwa sumber tidak hanya mempengaruhi pesan, tetapi juga bisa mempengaruhi komponen yang lainnya.

 SUMBER:
Naja,Hasanuddin Rahman Daeng.2004.Manajemen Fit and Proper Test.Yogyakarta:Pustaka Widyatama 


03/10/13

Biografi

Intan Purnama Iswari,rangkaian kata yang dijadikan sebuah nama di sepanjang kehidupan saya.Saya biasa dipanggil Intan, tapi jika di keluarga besar,saya biasa dipanggil Kadek.Karena saya anak bungsu dari Bapak Wayan Semeratmaja dan Ibu Ni Ketut Sarka Atmaja dan memiliki seorang kakak laki-laki yang  dibesarkan dari keluarga asli Bali,sehingga panggilan Kadek dapat berarti adik dan nama panggilan anak kedua yang biasa dipakai dalam keluarga di Bali.Meskipun saya berasal dari Bali,dari kecil saya tumbuh dan berkembang di Depok.Saya lahir di Bogor,tepatnya tanggal 29 bulan November tahun 1993 silam.Proses persalinan ibu dalam melahirkan saya berlangsung dengan normal.Ternyata sebelum saya lahir,kakak berteriak dari luar ruang persalinan,dan seketika itu pula saya lahir dengan selamat dan memulai kehidupan di dunia.Tangisan kencang saya mengawali semua ini,semua yang akan saya hadapi di dalam hidup,di dalam keindahan dunia,di iringi kemuliaan dan keagungan Tuhan. Kehadiran saya di dunia menjadi suatu hal yang ditunggu oleh semua keluarga besar saya sebagai anak perempuan pertama di keluarga.Doa dan harapan ditujukan kepada bayi mungil ini,Intan Purnama Iswari.
Dek Intan, nama panggilan yang hingga sekarang melekat dalam diri saya.Sebagai anak bungsu dalam keluarga dan anak perempuan satu-satunya.Saya dibesarkan di lingkungan keluarga yang disiplin.Dididik dengan pola asuh yang demokrasi tapi tetap tegas , sehingga kedisiplinan yang diterapkan orang tua saya sudah melekat dalam diri saya. Saat umur saya sudah mencukupi untuk bersekolah,saya disekolahkan di TK Tunas Kasih.Letak TK yang berada di depan komplek perumahan relatif dekat dari tempat tinggal saya.Sebelum masuk TK pun saya sudah mulai diajarkan huruf,angka,menyanyi dan mengenal akan objek-objek benda.Saya sangat senang menyanyi,jika ibu mengajarkan saya lagu-lagu baru,saya sangat gembira dan mampu menghafalkan lagu-lagu dan menyanyikannya dengan benar. Saya juga senang berlari,meloncat dan bermain bersama teman-teman di taman bermain menjadi aktivitas saya saat TK.
Rasa ingin tahu yang cukup tinggi yang ada dalam diri saya membuat saya selalu ingin cepat masuk sekolah.Kata Ibu,saya sering berceloteh untuk segera masuk sekolah.Padahal saat itu saya baru berumur  kurang dari 6 tahun. Namun saat kecil saya termasuk anak yang pemalu sehingga kemanapun harus bersama ibu atau ayah.Di TK saya mulai memiliki teman,bermain dan belajar di usia kanak-kanak.Saat TK,saya diantar jemput oleh jemputan dari TK dimana saya bersekolah.Karena warna mobil itu berwarna putih sehingga saya dan teman-teman lain menyebutnya jemputan putih.Saya masih mengingat ketika itu saya akan berangkat sekolah,biasanya kaos kaki dan sepatu masih dipakaikan oleh Ibu,namun saat itu saya mencoba untuk  memakainya sendiri.Dan hasilnya,sepatu kiri saya pakai di kaki kanan dan sepatu kanan saya pakai di kaki kiri.Ibupun mentertawai saya dan langsung membenarkan dan menjelaskan cara memakai sepatu yang benar.Seperti kebanyakan anak-anak perempuan lainnya, saya suka mengkoleksi boneka.Setiap diajak pergi membeli mainan,saya selalu meminta untuk dibelikan boneka-boneka.Hingga terkadang orangtua melarang karena mengingat sudah tidak ada tempat lagi untuk menaruh semua boneka-boneka yang saya koleksi.
 Pertumbuhan saya di TK belum begitu terlihat,tinggi saya masih sepantaran dengan teman-teman lain,rambut yang tergerai panjang,namun tipis,dijadikan berbagai bentuk model ikat rambut oleh ibu saya.Kadang dibiarkan terurai,dikepang dua,dikuncir dua atau dikuncir kuda.Bahkan ibu pernah mengikat dua rambut saya dan dibuat bulat seperti anak-anak di Jepang.
 Setelah selasai bermain dan belajar di TK,saya melanjutkan pendidikan di SD Pemuda Bangsa.Saya bersekolah di SD yang sama dengan kakak saya.Saya memiliki seorang kakak laki-laki.Jarak umur saya dan kakak terpaut  4 tahun. Saat SD,saya diantar jemput menggunakan mobil jemputan.Karena jarak rumah dan sekolah yang cukup jauh.Sifat pemalu yang saya miliki masih saja melekat.Oleh karena itu ibu mengarahkan saya untuk perlahan menghilangkan sifat tersebut.Salah satunya dengan mengikuti les tari Bali saat SD dan tampil diacara-acara tertentu. Lalu,saya melihat kakak tergabung dalam ekstrakuikuler di sekolah,dan saya pun tertarik untuk mengikutinya.Namun baru saat kelas 4 SD saya dapat bergabung di ekstrakulikuler yang cukup menjadi andalan di sekolah saya.Ekstrakulikuler itu adalah Drumband Gita Widya Pemuda Bangsa.Masa-masa saya di Sekolah Dasar sangat mengesankan,bermain bersama teman-teman,belajar dan akhirnya tibalah saya memasuki masa pubertas di masa remaja awal.
Setelah lulus dari SD saya melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 Depok.Jarak sekolah yang cukup jauh membuat saya harus lebih mandiri.Untuk sampai ke sekolah,saya berangkat menggunakan kendaraan umum.Tapi lebiih sering berangkat bersama kakak sepupu,untuk menghemat uang jajan.Awalnya karna terbiasa naik jemputan untuk berangkat dan pulang sekolah saya merasa agak takut jika harus pulang sendirian seperti itu.Jadi,hari pertama sekolah, ibu mengajarkan saya harus naik angkot yang mana dan seterusnya,saya pun harus berani dan mengalihkan rasa takut saya yang dulu.Di SMPN 1 Depok, saya hanya mengenal beberapa teman karena teman dari SD saya dulu hanya beberapa yang akhirnya melanjutkan pendidikannya di sekolah yang sama dengan saya.Jadi,saya harus sangat beradaptasi agar dapat mengikuti hari demi hari di sekolah ini dengan baik.
Memasuki masa remaja awal ini,pertumbuhan saya semakin pesat.Terlihat dari fisik saya yang bertambah tinggi.Begitu juga dengan teman-teman perempuan saya yang lainnya.Di sana banyak sekali hal-hal yang tidak saya alami di sekolah dasar.Baik dari mata pelajarannya yang semakin banyak dan rumit,teman-teman dan pergaulan yang baru,dan berbagai hal-hal kompleks lainnya yang membuat saya benar-benar ingin menyesuaikan diri.Dan dari banyak kegiatan yang tersedia di SMP saya,entah mengapa saya memilih ekstrakulikuler Paskibra. Karena fisik yang terkuras serta pola makan yang tidak teratur membuat saya jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit karena menderita types (di semester 1) dan DBD  (di semester 2).Tapi untung saja teman-teman membantu dalam mengejar pelajaran yang tertinggal sehingga prestasi saya di sekolah tidak turun karena beberapa hari tidak masuk sekolah karena sakit.Setelah pulih kembali saya beraktifitas kembali dan sangat menjaga pola makan agar tidak kembali dirawat di rumah sakit.
Setelah naik ke kelas delapan,saya dianjutkan untuk menjadi pengurus OSIS di SMP saya.Akhirnya saya mengikuti pemilihan tersebut dan singkat cerita saya di percayakan untuk menjabat sebagai Sekertaris 2.Di organisasi ini saya menjadi kenal dengan teman-teman berbeda kelas dan kakak kelas yang berada di satu organisasi tersebut.Karena pada dasarnya saya seorang yang pemalu, saya sering sekali enggan dalam berpendapat.Namun di dalam organisasi ini,saya belajar banyak hal.Salah satunya dalam etika berbicara.Selanjutnya saya mulai terapkan dalam kehidupan saya sehari hari,mencoba untuk merubah sifat saya yang pemalu,menunduk jika berjalan dan sedikit demi sedikit saya bisa menjalankannya. Dan untungnya saja,lagi-lagi nilai-nilai di raport saya tidak jatuh dan saatnya berjuang di kelas sembilan dalam menghadapi UN.
Dan dikelas sembilan pun saya sudah mengimpikan Sekolah Menengah Atas yang ingin saya capai yaitu sekolah dimana kakak saya menuntut ilmu,SMAN 3 Depok.Karena sekolah itu termasuk dalam sekolah favorit,dengan kata lain saya harus mendapat nilai yang cukup dalam seleksi masuk siswa baru nanti.Dan di saat UN tiba,saya pun menjalaninya dengan berdoa,diiringi restu orang tua,dan ilmu-ilmu yang telah dipelajari sebelumnya.Sampai pada akhirnya surat kelulusan bertuliskan nama saya menyatakan bahwa saya pun lulus.
Lulus dari SMP berarti saya sudah semakin beranjak dewasa,namun sifat dasar saya yang pemalu dan tidak percaya diri masih terkadang muncul dalam diri saya.Saat itu saya nama saya pun terdaftar sebagai murid baru di SMA Negeri 2 Depok. Sampai akhirnya masa-masa SMA saya pun dimulai.Putih abu-abu yang mengisi masa remaja saya.
Saya harus kembali beradaptasi di sekolah baru ini,dengan teman-temannya,lingkungannya,pelajarannya dan segala seluk beluk yang akan saya hadapi selama 3 tahun kedepan.Saat kelas sepuluh,saya menjalani hari-hari di sekolah dengan biasa-biasa saja.Mengikuti pelajaran yang sudah cukup rumit dengan mata pelajaran yang sangat banyak dan begitu seterusnya.Untuk sedikit refreshing, saya kembali mengikuti ekstrakulikuler yang ada di sekolah.Awalnya saya ingin mengikuti ekstrakulikuler basket.Namun saya terpilih sebagai anggota pengibaran saat 17 Agustus yang semua anggotanya berasal dari siswa siswi kelas 10.Dan lagi-lagi saya terjun dalam ekstrakulikuler Paskibra.
Dikelas sepuluh,saya mulai mencari jati diri.Mencari teman dan kegiatan-kegiatan lainnya.Sampai pada akhirnya saya mendapat suatu kesempatan untuk mengikuti seleksi calon PASKIBRAKA di tingkat kota Depok.Awalnya saya tidak terlalu berharap akan lolos seleksi itu, karena menganggap peserta yang lain memiliki potensi yang lebih dibandingkan saya.Namun tahap demi tahap saya lalui dan pada akhirnya saya pun bergabung sebagai salah satu dari 42 putra putri yang terpilih di kota Depok.Rasa syukur atas rezeki yang saya terima di tahun 2009 itu terus mengalir.Namun,dukungan dari teman-teman dan juga senior kepada saya membawa saya terpilih untuk mewakili kota Depok di tingkat Provinsi Jawa Barat.Walaupun tidak dapat melanjutkan ke tingkat nasional.Rasa bangga dan senang dapat menjadi salah satu bagian dari putra putri yang bersatu mengibarkan bendera pusaka di tingkat Provinsi Jawa Barat menjadi suatu pengalaman yang berharga di masa-masa SMA saya.
Dan singkat kata saya naik ke kelas duabelas.Dimana saya lagi-lagi harus melaksanakan Ujian Nasional untuk lulus dari SMA dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Perjuangan menghadapi secarik kertas yang menentukan nasib kami selama  3 tahun berada di SMA.Ujian Nasional pun telah usai dan sampailah kami di gerbang perpisahan.Sekolah saya pun mendapatkan 100 % kelulusan, ini artinya perjuangan kami bersama sama selama 3 tahun diakhiri dengan perpisahan kami untuk menggapai cita-cita yang masih panjang di luar sana.
Perguruan Tinggi,ya saya akan melanjutkan pendidikan saya di Perguruan Tinggi.Tentunya saya sangat berharap untuk dapat lolos di perguruan tinggi negeri favorit.Namun jalan pun mengarahkan saya sampai di sini sebagai mahasiswa Psikologi di Universitas yang sampai saat ini menjadi almamater tempat saya menuntut ilmu,Universitas Gunadarma.
Hidup tidak selalu datar,hidup akan terus mengalir,bergelombang dan banyak rintangan.Kita tidak akan selalu berada di atas dan juga tidak akan selalu berada di bawah.Semuanya berputar,seperti rotasi bumi. Terkadang kenyataan tidak seperti yang kita harapkan.Namun kenyataan akan membawa kita ke satu titik dimana harapan-harapan yang sirna muncul kembali dan mewarnai hidup kita. Perjalanan saya masih panjang.Masih ada esok,lusa dan hari-hari berikutnya yang mengiringi setiap detik dalam kehidupan ini.Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi dikeesokan hari,tapi kita dapat memprediksi.Jangan sia-siakan setiap pelajaran hidup yang telah kita dapatkan, dan jangan pernah berhenti berdoa dan berusaha,dan yakinlah Tuhan Yang Maha Esa akan memberikan hal terbaik untuk setiap umat-Nya.